I.
Pendahuluan
Allah SWT telah
menamakan kitab-kitabNya, seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS,
Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa AS, Zabur diturunkan kepada Nabi Daud AS,
dan Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Kitab Allah yang terakhir inilah yang wajib kita imani. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ
عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada
Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya[1]”.
Di pangkal seruan ayat yang pertama telah diseru orang
beriman. Tetapi dipangkal ayat yang terakhir, diperintahkan sekali lagi supaya
orang yang beriman itu percaya dan benar-benar beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya. Setelah mengaku beriman, hendaklah diperdalam lagi. Dalam seluruh hidup hendaklah pupuk terus iman tersebut hingga subur dan akhirnya akan bertambah besar, lalu beranting berdahan, berdaun
berbuah. Sebab kalau tidak ada pemupukan, iman itu bisa jadi tinggal kerosong
belaka. Kulit diluar seakan-akan masih berdiri tegak, padahal isi didalam telah
lapuk mumuk dimakan anai-anai atau rayap, ketika datang angin agak keras, dia
pun tumbang[2].
Nabi Muhammad
SAW juga bersabda tentang Iman:
أن تؤ من با
لله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن باالقدر خيره وشره
“Hendaknya engkau beriman kepada Allah,
para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, hari akhir dan hendaknya
engkau beriman kepada qadarNya yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)[3].
Didalam makalah
ini kami akan membahas iman kepada Al-Quran, yaitu kitab Allah yang wajib kita
imani.
II.
Makna Al-Quran dan Iman Kepada Kitab-Kitab Allah
Al-Quran adalah
kitab kalamullah atau kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW[4].
Iman kepada
kitab-kitab Allah yaitu kepercayaan yang pasti bahwasanya Allah SWT memiliki
kitab-kitab yang diturunkan kepada para RasulNya untuk disampaikan kepada para
hambaNya,
dan bahwa kitab-kitab tersebut adalah kalamullah, dan bahwa didalam
kitab tersebut terdapat kebenaran, cahaya dan petunjuk bagi manusia baik di dunia
maupun di akhirat.
Beriman kepada
kitab Allah mencakup tiga perkara:
1.
Beriman bahwa kitab-kitab itu benar-benar diturunkan dari Allah SWT,
2.
Beriman kepada apa yang telah Allah namakan dari kitab-kitabNya,
seperti Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Taurat yang
diturunkan kepada Nabi Musa AS, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa AS, dan
Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud AS.
3.
Mempercayai berita-berita yang terdapat didalamNya.
III.
Keistimewahan Al-Quran
Al-Quran adalah
kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Karena itu, setiap mukmin diharuskan untuk senantiasa mengagungkan Al-Quran dan berusaha untuk berpegang
teguh dengan hukum-hukumNya serta membaca dan merenungkanNya. Cukuplah Al-Quran
itu sebagai petunjuk jalan kita di dunia dan di akhirat.
Selain itu,
Al-Quran memiliki keistimewaan dan keutamaan yang banyak sekali dan hal itu
tidak dimilki oleh kitab-kitab samawi sebelumnya. Diantara keistemewaan dan keutamaan
Al-Quran adalah:
1.
Al-Quran telah menghimpun ringkasan hukum-hukum Ilahi, dan Al-Quran
datang sebagai penguat dan pembenar dari apa yang dikandung oleh kitab-kitab
Allah terdahulu yang berisi perintah untuk beribadah kepadaNya[5].
Allah berfirman:
وَأَنْزَلْنَا
إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ
وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran
dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab
(yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai saksi[6]”.
Turunnya Al-Quran
adalah menggenapkan atau membenarkan (Mushaddiqan)
bagi kitab yang terdahulu. Kitab yang sudah lengkap di perlengkap, sebab umat
manusia bertambah maju dan daerah yang dihadapi tambah luas[7].
Makna “membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumya” yaitu bahwasanya Al-Quran itu membenarkan apa yang
terdapat didalam kitab-kitab terdahulu dari berbagai kebenaran. Sedangkan makna
“sebagai saksi atasnya” yaitu bahwasanya Al-Quran itu sebagai pendukung dan
saksi atas diturunkannya kitab-kitab terdahulu[8].
2.
Semua manusia wajib berpegang teguh kepada Al-Quran, kerena itu
setiap orang harus mengikuti petunjuk Al-Quran dan mengamalkannya. Hal itu
berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang hanya khusus bagi kaum tertentu[9].
Allah berfirman:
وَأُوحِيَ
إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ ۚ
“Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya
dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai
Al-Quran (kepadanya)[10]”.
Maksud dari ayat diatas yaitu bahwa
Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.
untuk memberi ancaman kepada umat manusia kalau mereka berbuat suatu kesalahan
terhadap Allah dan peringatan kepada orang yang telah sampai kepada
seruan ini[11].
3.
Sesungguhnya Allah SWT telah menjamin umatnya untuk menjaga
Al-Quran, oleh karena itu tidak akan ada tangan yang bisa merubahnya[12].
Allah berfirman:
إِنَّا
نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran,
dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya[13]”.
IV.
Kewajiban Kita Terhadap Al-Quran
Kita wajib
mencintai Al-Quran, mengagungkan, dan menghormati kedudukannya, sebab Al-Quran
adalah kalamullah dan perkataan yang paling benar dan paling utama. Kita
wajib membaca dan merenungkan ayat-ayat dan
surah-surah yang terdapat
didalam Al-Quran, serta memikirkan tentang pelajaran, berita dan kisah-kisah yang terkandung
didalamnya.
Kita wajib
mengikuti hukum-hukum serta mentaati semua perintah yang terdapat didalamnya.
Suatu ketika
Aisyah Radhiallahuanha ditanya tentang akhlak Nabi SAW. Maka Aisyah menjawab:
كان خلقه
القرآن
“Akhlak beliau
adalah Al-Quran.” (HR. Muslim).
Hadits tersebut
bahwasanya Rasulullah SAW adalah seorang pribadi yang mencerminkan realisasi nyata
dari hukum-hukum Al-Quran dan syariat-syariatnya. Nabi SAW mewujudkan
ketaatannya secara sempurna kepada petunjuk Al-Quran, karena itu kita wajib
meneladani Nabi SAW, sebab beliau teladan yang baik bagi kita[14].
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ
لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah[15]”.
V.
Penyimpangan Kitab-Kitab Terdahulu
Ahli kitab dari
Yahudi dan Nasrani telah mengubah kitab-kitab mereka, karena itu kitab-kitabnya
tidak lagi seperti saat diturunkan Allah SWT. Orang-orang Yahudi menyimpangkan
Taurat. Mereka mengubah dan menggantinya serta mempermainkan hukum-hukum yang terdapat didalamnya[16]. Allah berfirman:
مِنَ
الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ
Sebagaimana
orang-orang Nasrani juga menyimpangkan Injil. Mereka mengubah hukum-hukumnya.
Allah berfirman tentang orang-orang Nasrani:
وَإِنَّ
مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ
الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ
يَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan
yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi
Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah[18]”.
Karena itu,
Taurat yang ada sekarang ini bukanlah
Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS. Demikian pula Injil yang ada
sekarang bukanlah Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa AS.
Sesungguhnya
Taurat dan Injil yang berada ditangan orang-orang ahli kitab mengandung aqidah
yang rusak, berita-berita yang batil, dan cerita-cerita yang dusta. Karena itu
kita tidak mempercayai apa yang ada didalam kitab-kitab tersebut, kecuali apa
yang dibenarkan oleh Al-Quran atau As-Sunnah.
Sebaliknya, kita juga mendustakan apa yang ada didalamnya yang didustakan oleh
Al-Quran dan As-Sunah[19].
Menurut
keterangan dari penyelidik Islam yang terkenal, yaitu Syekh Rahmatullah
al-Hindi didalam kitabnya Izh Harul Haqq bahwa tahrif atau mengubah-ubah, ada yang mengubah dengan
kalimat sehingga artinya pun berubah, mereka menambahkan beberapa kalimat
sehingga berubah maknanya dari maksud yang asli, mereka juga mengurangi jumlah
kata yang tidak mereka senangi. Syekh Rahmatullah mengemukakan satu misal yaitu
yang tertulis didalam kitab kejadian tentang raja-raja yang memerintah di negeri
Adom, sebelum ada raja-raja Bani Israil (lihat kejadian 36, 31 sampai 43) kata
Syekh Rahmatullah, “Ini tidak mungkin dari perkataan Musa. Karena Bani Israil
tidak mempunyai raja-raja di negeri itu, melainkan 350 tahun sesudah Musa[20].
VI.
Manfaat Beriman Kepada Al-Quran
Manfaat
beriman kepada kitab-kitab Allah diantaranya:
1.
Mengetahui tentang perhatian Allah terhadap hamba-hambaNya, juga kesempurnaan
rahmatNya, dimana Allah menurunkan kepada kaum sebuah kitab sebagai petunjuk
bagi mereka, agar mereka bisa mencapai kebahagiaan di dunia
maupun di akhirat.
2.
Mengetahui hikmah Allah SWT dalam syariatNya, dimana Allah
mensyariatkan bagi setiap kaum apa yang sesuai dengan keadaan[21]. Allah
berfirman:
لِكُلٍّ
جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ
Sekarang al-Quran sudah datang, dia
membangun syari’at baru dengan tetap memakai pokok aqidah yang lama, sebab itu
maka jalankanlah hukum menurut al-Quran dan jangan ragu-ragu lagi[23].
3.
Bersyukur kepada Allah karena telah diturunkan kitab-kitab
tersebut. Sebab kitab-kitab tersebut adalah cahaya dan petunjuk di dunia maupun di
akhirat. Karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat yang agung
ini[24].
VII.
KESIMPULAN
Iman kepada kitab-kitab Allah yaitu
kepercayaan yang pasti bahwasanya Allah SWT. memiliki kitab-kitab yang
diturunkan kepada para RasulNya untuk disampaikan kepada para hambaNya, dan
bahwa kitab-kitab tersebut adalah kalamullah, dan bahwa didalam kitab
tersebut terdapat kebenaran, cahaya dan petunjuk bagi manusia baik di dunia
maupun di akhirat, dan Al-Quran
adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu, sudah
seharusnya bagi setiap mukmin untuk senantiasa mengagungkan Al-Quran dan berusaha untuk berpegang
teguh dengan hukum-hukumnya serta
membaca dan merenungkannya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran
Hamka.
Tafsir Al-Azhar. (Jakarta: Gema Insani. 2015).
An-Nawawy,
Yahya bin Syarifuddin. Ar-Arba’iin An-Nawawyyah. (Surabaya: Ahmad Nabhan.
ttp)
Al-Hasani,
Sayyid Muhammad ‘Alawy Al-Maliki. Qawaa’idul Asaasiyyah. (Surabaya:
As-Shofwah. ttp).
Latif,
Abdul Aziz bin Muhammad Abdul. Tauhid Linnaasi’ah Wal Mubtadi’iin. (ttp.
Departemen Urusan Keislaman. 1424).
[1] Al-Quran, An-Nisa’: 136.
[2] Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta:
Gema Insani, 2015), 2: 487.
[3] Yahya bin Syarifuddin
An-Nawawy, Ar-Arba’iin An-Nawawyyah, (Surabaya: Ahmad Nabhan, ttp), 16.
[4] Sayyid Muhammad ‘Alawy
Al-Maliki Al-Hasani, Qawaa’idul Asaasiyyah, (Surabaya: As-Shofwah, ttp),
9.
[5] Abdul Aziz bin Muhammad
Abdul Latif, Tauhid Linnaasi’ah Wal Mubtadi’iin, (ttp, Departemen Urusan
Keislaman, 1424), 123-124.
[6] Al-Quran, Al-Maa’idah: 48.
[7] Hamka, Tafsir Al-Azhar, 2:
708.
[8] Abdul Aziz bin Muhammad
Abdul Latif, Tauhid Linnaasi’ah Wal Mubtadi’iin, 124-125.
[9] Ibid, 125.
[10] Al-Quran, Al-An’aam: 19.
[11] Hamka, Tafsir Al-Azhar, 3:
112.
[12] Abdul Aziz bin Muhammad
Abdul Latif, Tauhid Linnaasi’ah Wal Mubtadi’iin, 125-126.
[13] Al-Quran, Al-Hijr: 9.
[14] Abdul Aziz bin Muhammad
Abdul Latif, Tauhid Linnaasi’ah Wal Mubtadi’iinI, 126-127.
[15] Al-Quran, Al-Ahzab: 21.
[16] Abdul Aziz bin Muhammad
Abdul Latif, Tauhid Linnaasi’ah Wal Mubtadi’iin, 128-129.
[17] Al-Quran, An-Nisa’: 46.
[18] Al-Quran, Al-‘Imraan: 78.
[19] Abdul Aziz bin Muhammad
Abdul Latif, Tauhid Linnaasi’ah Wal Mubtadi’iin, 130-131.
[20] Hamka, Tafsir Al-Azhar, 2:
313.
[21] Abdul Aziz bin Muhammad
Abdul Latif, Tauhid Linnaasi’ah Wal Mubtadi’iin, 131-132.
[22] Al-Quran, Al-Ma’iidah: 48.
[23] Hamka, Tafsir Al-Azhar, 2:
709.
[24] Abdul Aziz bin Muhammad
Abdul Latif, Tauhid Linnaasi’ah Wal Mubtadi’iin, 132.
Komentar
Posting Komentar